Ponpes Idrisiyyah Jadi Percontohan Program OPOP

Santri Bisa Sukses Membangun Ekonomi

PELATIHAN MEMBUAT PRODUK. Peserta program One Pesantren One Product (OPOP) saat mengikuti pelatihan pembuatan kue di Pondok Pesantren Idrisiyyah.

Pondok Pesantren Idrisiyyah menjadi pesantren percontohan dalam Program One Pesantren One Product (OPOP).

Program Pemerintah Provinsi Jawa Barat itu bertujuan menciptakan kemandirian umat melalui para santri, masyarakat dan pondok pesantren agar mampu mandiri secara ekonomi, sosial dan juga memacu pengembangan skill, teknologi produksi, distribusi dan pemasaran.

Ustaz Ahmad Tazakka Bonanza Ketua Koperasi Pesantren Idrisiyyah sekaligus narasumber pelatihan OPOP

Ketua Koperasi Pesantren Idrisiyyah sekaligus narasumber pelatihan OPOP, Ustaz Ahmad Tazakka Bonanza mengatakan, kegiatan OPOP merupakan kali kedua diselenggarakan di Pondok Pesantren Idrisiyyah. Kali kedua ini pesertanya lebih sedikit.

Jumlahnya hanya 56 peserta dari pesantren di Jawa Barat. Beda dengan tahun sebelumnya sekitar 500 peserta.

”Karena saat ini massa pandemi pesertanya dibatasi, karena harus menjalankan protokol kesehatan,” kata Ustaz Ahmad Tazakka Bonanza (AKA) Selasa (29/8/2020).

PELATIHAN. Pondok Pesantren Idrisiyyah menjadi pesantren percontohan dalam Program One Pesantren One Product (OPOP). Para peserta saat mengikuti pelatihan beberapa waktu lalu.

Pada intinya, OPOP merupakan program untuk menumbuhkan ekonomi umat, karena pondok pesantren memiliki potensi sangat luar biasa sehingga menjadi motor penggerak ekonomi umat.
”Ini untuk membangun ekonomi umat melalui pondok pesantren,” ungkap dia.

Pola pelatihan OPOP bermodel pemagangan. Jadi, selain mengikuti pelatihan, peserta juga mengikuti praktik langsung.

”Khususnya melihat langsung kesuksesan Pondok Pesantren Idrisiyyah dalam bidang ekonomi,” jelas Ustaz AKA.

Pada kegiatan tersebut, peserta pelatihan OPOP berkunjung ke-40 unit bisnis di Pondok Pesantren Idrisiyyah. Termasuk langsung melaksanakan pelatihan.

”Selain diberi materi kiat-kiat pengembangan ekonomi, mulai dari manajemen keuangan, produksi, pemasaran dan lainnya,” ujar dia.

Ustaz AKA menjelaskan, saat pemagangan, peserta pelatihan mempelajari sektor UKM makanan dan minuman, kerajinan serta perikanan. ”Para peserta ini mempelajari tiga sektor itu,” kata dia.

Ustaz AKA berharap, setelah adanya pelatihan dan pemagangan, para peserta pelatihan bisa mengaplikasikan pengetahuan di pesantren masing-masing.

”Pesantren-pesantren mendapatkan inspirasi dalam pengembangan ekonomi. Termasuk karena para peserta melihat langsung pelaksanaan kegiatan usaha yang ada di Idrisiyyah menjadi motivasi pesantren untuk membangun ekonomi di pesantren masing-masing,” harapnya.

Pada dasarnya, kata Ustaz AKA, santri bisa sukses membangun ekonomi asalkan memiliki kemauan dan semangat. ”Kita santri bisa sukses meskipun santri dalam bidang ekonomi,” kata Ustaz AKA. (ujg)

Be the first to comment on "Santri Bisa Sukses Membangun Ekonomi"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: