Sebab atau Akibat

Banyak kejadian yang menimpa kita. Ada yang menurut kita baik, dan ada yang sebaliknya. Dalam menyikapinya, jika kejadian yang tidak baik, ada kecenderungan kita menyalahkan kejadian tersebut. Padahal kejadian adalah akibat, kita adalah yang menjadi sebab.

Pada saat kita belajar di sekolah formal, sejak pendidikan tingkat dini hingga pendidikan tinggi, pasti ada nilainya yang terbaik. Dan, pasti ada yang nilainya terendah.

Semua teman kita di kelas, termasuk guru, sepakat bahwa yang terbaik nilainya pasti mempunyai dan melaksanakan strategi manfaatkan waktu dan cara belajar secara efisien dan efektif.

Kita selalu bilang, yang pintar dan juara itu adalah anak yang rajin dan tekun belajarnya.
Dalam bidang ekonomi pun demikian. Krisis atau resesi adalah akibat. Penyebabnya? Pasti pelaku ekonomi itu sendiri. Mungkin kurang pas dalam mengatur strategi dan mengeksekusi strategi itu.

Nanang Saady (Pemerhati Sosial Ekonomi)

Ekonomi adalah uang yang beredar. Uang yang dipegang oleh masyarakat. Semua lapisan masyarakat, tanpa kecuali.

Dari uang tersebut, masyarakat bisa belanja untuk memenuhi kebutuhan atau keinginannya. Daya beli masyarakat untuk belanja akan meningkat, jika uang yang didapat dan dipegang jumlahnya meningkat.

Sehingga ketika uang yang dipegang masyarakat berkurang, uang yang beredar pun berkurang, pelaku ekonomi kelabakan. Bilangnya: Omzet penjualan berkurang. Laba berkurang, bahkan merugi.

Berkurangnya Uang Beredar

Ahli statistika yang selalu merangkai angka-angka, mengolah angka-angka yang bergerak menjadi indikator. Salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi yang menurun atau bahkan minus.

Dan kondisi pertumbuhan ekonomi minus ini sudah melanda di berbagai negara. Di banyak negara. Termasuk Indonesia, dalam trisemester kedua tahun 2020.

Maka, untuk mengangkat kembali daya beli masyarakat, pemerintah mengeluarkan berbagai stimulus supaya masyarakat bisa memegang uang lagi untuk belanja. Untuk meningkatkan daya belinya.

Bagaimana dengan pengusaha. Tentu harus mengatur strategi atau bahkan mengubah strategi. Jangka sangat pendek, jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang.

Jangka sangat pendek, bisa satu bulan ke depan atau hingga enam bulan ke depan. Strateginya menyesuaikan dengan pola hidup dan pola belanja masyarakat.

Tentu dengan membuat segmentasi yang cermat untuk bisa mengambil peluang dari setiap segmen masyarakat.

eluang menerima pemasukan dari uang yang dibelanjakan di setiap segmen masyarakat.

Tidak mudah memang solusinya. Setiap bisnis, solusinya berbeda dan belum tentu juga bisa.
Secara sederhana yang masih ada peluang;

Pertama, beralih ke komoditas yang saat ini lebih diminati. Seperti alat kesehatan tertentu, makanan tertentu.

Kedua, pemasaran secara digital atau e-commerce atau online.

Ketiga, untuk media, saya belum terpikir solusinya. Keempat, harus berhemat. Pengeluaran betul-betul harus berdasar prioritas.

Kelima, bagi yang berlebih harus banyak berbagi.

Keenam, harus semakin dekat dengan Allah. Semakin banyak bersyukur, semakin saleh, semakin banyak ibadah, banyak berdoa agar Allah melindungi kita, keluarga, sahabat dan bangsa ini. (*)

 

Be the first to comment on "Sebab atau Akibat"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: