Pemimpin Overstay

Ucapan klise lama: Mempertahankan lebih susah daripada memenangkan untuk kali pertama. Mungkin ada tambahannya:

Mengakhiri dengan indah jauh lebih sulit daripada memenangi kali pertama dan mempertahankannya bertahun-tahun.

What goes up, must come down. Apa yang naik, pasti harus turun. Tinggal landing-nya enak atau jeduk hancur.

Saya sekarang mencapai usia di mana saya sudah cukup untuk menjadi saksi soal menang, bertahan, dan mengakhiri dengan baik ini.

Baik di level pekerjaan secara profesional di berbagai bidang, atau sebagai orang yang memperhatikan dunia politik di level kota, provinsi, hingga negara. Bahkan juga di negara lain.

Saya paling elus-elus dada kalau harus melihat sesuatu yang indah berakhir dengan menyesakkan. Saya elus-elus dada, bukan sedih.

Karena mungkin saya sudah melihat prosesnya terjadi perlahan-lahan, bertahun-tahun, dan kemudian duorrrrr menjadi ending yang tidak diinginkan itu.

Kadang, walau kita melihat prosesnya terjadi, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau di dunia bisnis profesional, mungkin ada mekanisme yang bisa membuat situasi itu tidak terjadi.

Ada mekanisme evaluasi per tahun yang bisa memaksakan perubahan, supaya proses pembusukan tidak berlangsung terlalu lama.

Segera dipangkas sejak awal, supaya bisa segera mengoreksi diri, belok, dan kembali melejit.

Walau kadang, mekanisme tahunan itu tidak bisa mengoreksinya. Karena yang mengevaluasi memang tidak punya visi/gambaran yang konkret untuk mendeteksi masalah-masalahnya. Bahkan justru yang mengevaluasi itu jadi pokok dari masalahnya.

Di dunia politik, mekanismenya tidak bisa seperti di dunia profesional. Terlalu berat kalau harus evaluasi keras dan memaksakan perubahan setiap tahun.

Jadi kadang kita memang tidak bisa berbuat apa-apa hingga masa jabatan itu berakhir. Sering juga tidak bisa berbuat apa-apa hingga masa jabatan itu berakhir dua kali.

Karena itu, yang bisa dilakukan kadang hanya elus-elus dada.
Kalau di dunia bisnis/profesional, pimpinan yang parah bisa segera diganti lewat mekanisme tahunan.

Supaya masalahnya tidak “overstay.” Di dunia politik, kadang pemimpin yang “overstay” tidak terelakkan.

Saya menggunakan istilah “overstay” di sini secara agak lentur. Menurut definisi asli, “overstay” artinya memegang posisi/menempati sebuah tempat lebih lama dari waktu yang ditetapkan. Sedangkan jabatan politik kan sudah ditetapkan masanya. Jadi, kalau memang belum habis, ya sebenarnya tidak bisa dibilang “overstay.”

Nah, dalam konteks tulisan ini, “overstay” yang saya maksud adalah melebihi masa-masa efektif. Mungkin tanggal kedaluwarsanya masih sisa dua tahun, tapi dua tahun terakhir itu sebenarnya sudah tidak lagi layak/melenceng/bermasalah.

Saya sendiri selalu memikirkan itu. Dalam segala hal. Apakah saya ini overstay ya? Apakah waktunya saya untuk berhenti dan ganti haluan ya? Apakah waktunya memberi kesempatan bagi orang lain ya?

Sejauh ini, setiap kali saya berhenti dari sesuatu, rasanya selalu dalam kondisi sebaik mungkin. Ketika berhenti dari jabatan di sebuah media, kondisinya waktu itu rasanya masih baik. Saya bangga karena punya banyak catatan rekor di sana.

Baik nasional maupun internasional. Ketika tidak lagi memegang jabatan tertinggi di liga basket nasional (NBL), kondisi liga juga saya kira dalam kondisi terbaik dalam sejarah basket tanah air.

Saya merasa, perasaan overstay atau tidak itu harus jadi pemikiran wajib orang-orang yang punya jabatan tinggi.

Apalagi, orang-orang yang mau mengambil risiko dengan jabatan-jabatan tinggi itu mungkin juga dasarnya “tidak normal.” Seperti ucapan kondang Oscar Levant: Ada garis tipis antara jenius dan gila. He he he…

Bicara soal pemimpin gila, saya ingin berbagi percakapan dashyat antara dua orang hebat yang saya kagumi. Yang pertama salah satu komedian favorit saya, Jerry Seinfeld. Yang satu lagi mantan presiden Amrik, Barack Obama.

Seinfeld punya acara seru, “Comedian In Cars Getting Coffee.” Konsepnya sangat sederhana, dia menjemput bintang tamu naik mobil-mobil antik/keren, lalu mengajak mereka ngobrol sambil minum kopi.

Pada 2016 ini, bintang tamunya adalah Obama. Yang tahun itu menjalani tahun terakhirnya sebagai presiden AS. Tepatnya tahun kedelapan, setelah dua kali terpilih (di Amrik satu periode empat tahun, bukan lima tahun seperti Indonesia).

Seinfeld, dengan santai, bertanya ke Obama: “Menurut Anda, berapa banyak pemimpin dunia yang benar-benar sudah tidak waras?”
Obama, juga dengan santai, menjawab: “Saya kira cukup banyak.”

Seinfeld: “Orang-orang itu, ketika Anda bertemu mereka, ketika Anda ngobrol dengan mereka, Anda pasti melihat mata mereka. Lalu bilang, ‘Wow, orang ini sudah tidak waras.”

Obama menimpalinya selangkah lebih maju. Dia langsung menyebutkan kira-kira penyebab mengapa pemimpin-pemimpin itu jadi tidak waras.

“Menurut saya kira-kira begini. Semakin lama orang-orang ini menduduki jabatan itu, semakin besar kemungkinan (jadi tidak waras) itu terjadi,” ucapnya.

Seinfeld: “Tentu saja, mereka langsung kehilangan kontrol.”
Obama: “Maksud saya, pada suatu titik, kita pasti akan merasa kaki kita sakit, kita akan merasa sulit buang air kecil, dan kita punya kekuatan absolut plus kita punya privilege (hak istimewa).”
Seinfeld: “Privilege itu racun. Sangat menyedihkan.”
Obama: “Benar sekali.”

Seinfeld: “Bayangkan, seseorang sudah berjuang begitu keras untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Untuk mencapai posisi seperti Anda.

Kemudian power, pengaruh, dan uang bisa memberi efek racun terhadap segala pertimbangan-pertimbangannya…”

Saya benar-benar takjub dengan perbincangan itu. Dan dua orang ini saya kira mampu husnul khotimah dalam dunia masing-masing.

Saya kira, banyak yang setuju kalau Obama mengakhiri masa jabatannya dengan baik. Dia mengawalinya dengan catatan sejarah, sebagai orang kulit hitam pertama menjabat presiden Amrik. Kemudian dia memimpin dua periode dan ending-nya termasuk indah.

Jerry Seinfeld, bagi penggemar komedi dan pop culture, sudah terbukti sebagai orang yang punya keteguhan sikap. Dia adalah orang yang berani “go out on top.” Maksudnya, berhenti saat berada di puncak.

Ketika sitkomnya, Seinfeld, sedang sangat populer di penghujung 1990-an, dia memilih menghentikannya sebelum popularitas menurun.

Ketika pertunjukan standup-nya sempat melejit, dia sempat memilih berhenti total. Baru sekian tahun kemudian sesekali kembali.
Seinfeld sama sekali tidak mau overstay dalam hal apa pun.

Seinfeld inilah yang sangat mempengaruhi pola pikir saya. Gara-gara dia saya selalu berpikir untuk tidak pernah overstay dalam hal apa pun.
Dalam perbincangan yang sama, Obama bertanya ke Seinf

eld. Apakah segala sukses ikut mengubah Seinfeld jadi tidak waras? Sang komedian menjawab lagi dengan santai.

Di dunianya (entertainment), semua juga tidak waras. Nah, untuk memastikan “tidak warasnya” ini masih dalam jalur yang baik, Seinfeld menyebut ada resepnya. Dan dia menyebut resepnya pasti sama dengan yang dilakukan Obama sebagai presiden.

“Saya jatuh cinta dengan pekerjaan saya. Dan pekerjaan ini nikmat, berat, menarik. Saya fokus ke situ,” kata Seinfeld.

Pertanyaan sederhana yang intelektual. Jawaban sederhana yang juga intelektual. Tapi bagi pembaca, hati-hati dalam me­ngin­terpretasikannya. Jangan mudah per­caya kalau ada pemimpin kita yang mencoba menirukan jawaban serupa.

Pastikan Anda bisa membedakan antara “mencintai pekerjaan” dengan “mencintai jabatan.” Sepertinya serupa, tapi bedanya banyaaaaaak sekali. (azrul ananda)

Be the first to comment on "Pemimpin Overstay"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: