Giat Berorganisasi dan Pembelajar

Dr Ade Zaenul Mutaqin MAg

Dr Ade Zaenul Mutaqin MAg mempunyai prinsip hidup mau belajar dari siapa pun. Mengalir bagaikan air. Karena baginya arus adalah proses menuju cita-cita.

Ade Zaenul mempunyai ketertarikan kajian sosial budaya dan politik. Itu sejak mahasiswa di penghujung Orde Baru runtuh.

Kesukaannya kepada kajian sosial, budaya dan politik membawanya sukses menjadi komisioner KPU Kota Tasikmalaya 2013-2018 dan Ketua KPU Kota Tasikmalaya 2018-2023.

“Di KPU saya sudah siap dikritik ketika berbeda pendapat dan mau menerima masukan dari orang lain,” ujarnya, Sabtu (25/7/2020).

Organisasi bukan “barang baru” bagi pria kelahiran 10 Januari 1977 ini. Sejak mahasiswa dia aktif di kampus maupun luar kampus.

Ade pernah menjadi Ketua HMI Komisariat STAI Tasikmalaya 1998-1999, Sekretaris HMI Cabang Tasikmalaya 1999-200, Ketua HMI Cabang Tasikmalaya 2001-2002 dan Ketua Bidang Internal Badko HMI Jawa Barat 2002-2004.

Aktif di dunia gerakan mahasiswa, membuatnya mempunyai jiwa kepemimpinan. Dia terbiasa dengan target. Apapun itu. Maka diperlukan manajemen organisasi yang baik.

Itu juga yang dia terapkan di KPU Kota Tasikmalaya. Dia mampu menjalankan visi-misi, prosedur, etika, asas dan lainnya dengan baik.

“Pengalaman berorganisasi ini sangat bermanfaat,” kata peraih doktor di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada Program Studi Pengembangan Kurikulum ini.

Berkat organisasi, suami dari Nia Maziyah Hamdah SPdI ini merasakan idealisme saat berkerja. Idealisme itu terus dia rawat. Tak hanya saat menjadi aktivis mahasiswa, namun sampai saat ini. Ia percaya ketika idealisme dirawat akan bermanfaat.

“Sehingga saya tidak boleh membedakan orang lain. Harus baik dari kalangan masyarakat elite ataupun biasa,” ujarnya.

Ia meyakini organisasi dapat merambah untuk menambah wawasan. Hal ini berdasarkan pengalamannya sendiri. “Karena sering kajian dan diskusi membuat saya sering baca serta menulis,” kata Ade yang telah menghasilkan puluhan karya tulis ini.

Kebiasaan membaca dan menulis tersebut terbawa sampai sekarang. Otomatis dengan menulis akan membaca lebih dari satu buku. “Sehingga membuat candu buku,” ujarnya yang masih menulis artikel sampai saat ini.

Saking suka kepada buku, dia menyukai segala buku. Karena tipenya generalis. Namun paling suka adalah temanya tentang sosial, budaya, dan politik. Sedikit-sedikit suka filsafat. “Saya coba baca semua. Tidak fanatik salah satunya,” katanya.

Menurutnya, membaca dan menulis itu untuk refreshing. Sambil mengisi kekosongan aktivitas di rumah. Terkadang hasil tulisannya dibagikan di grup-grup media sosial.

Paling tidak rutin seminggu sekali untuk menulis dan membaca satu buku. “Dengan itu pikiran pun terbuka,” ujarnya.

Walaupun menulisnya santai, per minggunya mempunyai satu artikel. Di kalikan satu tahun dapat menjadi buku.
“Alhamdulillah tahun ini akan menerbitkan buku. Yaitu Menggali Makna dari Apapun Bisa Belajar,” kata ayah lima anak ini.

Hobi Ade tak hanya membaca dan menulis. Kini bertambah. Tepatnya lima tahun terakhir. Dia mulai mencintai fotografi.

“Ada kebanggaan tersendiri ketika mengambil momentum dalam bentuk lensa,” ujarnya. Ia meyakini menjadi fotografer bukan sekadar ”mengambil” gambar.

Namun ada pesan penting. Karena itu, dia melakukan inovasi dalam mendongkrak pemilihan umum dengan lomba selfie.

Itu menjadi alat sosialisasi yang menarik. Utamanya untuk generasi milenial. “Sosialisasi lensa ini ternyata membawa pesan lebih kuat dan efektif,” ujarnya. (riz)

Be the first to comment on "Giat Berorganisasi dan Pembelajar"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: