Dalam kajian ilmu sosial tentang social movement atau perubahan sosial, diperlukan kaum intelektual yang melakukan bunuh diri kelas. Dalam sejarah zaman ini, hampir semua tokoh yang melakukan perubahan sosial adalah para intelektual yang tercerahkan.

Mustafa Chamran dan Gadis Lebanon

JUDUL BUKU : MUSTAFA CHAMRAN JUMLAH HALAMAN : 121 PENERBIT QORINA 2004

Mereka adalah manusia-manusia yang terlihat teguh, tegas dan tahu apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan perjuangan mereka. Akan tetapi cerita sisi lain di luar domain perjuangan mereka kadang menarik untuk diikuti.

Ini adalah kisah cinta Menteri Pertahanan Iran selepas revolusi. Mustafa Chamran, demikian orang-orang mengenalnya, adalah lulusan Ph.D dalam bidang Teknik Sipil dari Universitas of California, Barkley AS. Sewaktu rezim zionis menghabisi negara-negara di sekitarnya, Mustafa Chamran berkemas dan bergabung dalam barisan untuk memperjuangkan agama dan tanah airnya. Ia meninggalkan karier yang cemerlang dan masa depan yang diidam-idamkan semua orang.

Di front Lebanon, di sela-sela perang, ia tinggal dalam kamar yang sempit beralaskan peti kayu pengemasan buah sebagai alas tidurnya. Menyatu dengan 400 anak yatim hasil kekejaman perang. Sementara di tempat lain, wanita muda dari keluarga kaya, seorang jurnalis, terus menuliskan pendapatnya tentang kekejaman perang dan efek buruk yang ditimbulkannya. “Tidak adakah lilin kecil yang menyala dalam kegelapan perang ini?!” Begitulah kira-kira ratapan gadis muda itu dalam tulisan-tulisannya. Selain terus menulis, ia mengajar anak-anak kecil di sekolah.

Mustafa Chamran kagum dengan keberanian dan kecerdasan jurnalis itu lewat tulisan-tulisannya. Sementara Mustafa Chamran di telinga Ghadeh bukanlah sosok yang asing. Orang-orang sering membicarakan tentang sepak terjang doktor Mustafa Chamran.

Hingga seorang temannya, membawa kalender yang berisi lukisan. Dalam salah satu lukisan berlatar hitam itu ada lilin yang menyala juga sebuah puisi: Mungkin ku tak mampu usir kegelapan ini Tapi dengan nyala redup ini Kuingin tunjukan beda gelap dan terang, Kebenaran dan Kebatilan, Orang yang ikuti cahaya, Meski redup nyalanya Akan besar di hatinya.

Sepenggal puisi tersebut menggugah hati Ghadeh untuk pergi ke panti asuhan itu, lalu bertemu dengan
Mustafa Chamran. Dua jiwa yang berjalan bersisian ini menemukan peraduan. Tapi tembok besar di depan menghadang.

Keluarga Ghadeh adalah keluarga kaya yang dihormati. Ayahnya adalah pedagang permata transnasional. Apa kata orang, jika anak gadis keluarga ini, menikah dengan seorang asing umur 45 tahun, tanpa harta, tanpa kartu pengenal diri? Ibu Ghadeh adalah orang yang berdiri paling depan. Yang menolaknya. “Ghadeh sepanjang hidupnya dilayani setiap pagi ia bangun lalu ke kamar mandi buat membasuh muka dan menggosok gigi. Habis dari kamar mandi sudah harus tersedia susu dan secangkir kopi di samping tempat tidurnya.”

“Saya memang tidak punya kemampuan untuk menyediakan pelayan untuknya, tapi saya berjanji untuk menyuguhkan susu dan secangkir kopi untuknya di sepanjang hidup saya.”

Ibunda Ghadeh tidak bergeming. Ia memaksa Ghadeh untuk menuntut cerai. Penyakit ginjalnya makin memburuk. Ia ambruk. Dan pingsan di tengah dentuman meriam dan bom-bom yang dijatuhkan Israel di Lebanon Selatan. Mustafa Chamran menggendong mertuanya itu ke mobil. Membawanya ke Beirut dalam kecamuk perang. Ia menemani sang mertua selama di rumah sakit sampai sang ibu pulih dari sakitnya.

Mustafa Chamran hidup dengan Ghadeh di Panti Asuhan itu sambil mendidik dan menemani anak-anak korban perang, sampai akhirnya meletuslah perang IranIrak (1980-1988). Perang yang dipaksakan oleh Saddam Hussain beserta Amerika dan gengnya ini, membuat Mustafa Chamran untuk pulang. Membela tanah airnya sendiri.

Dua insan ini kembali berpisah. Terpisah dengan suaminya di perang lebanon membuatnya gundah. Tapi perang yang baru membuatnya sadar bahwa tantangan di depan lebih besar dan berat. Mereka bersepakat. Doktor Chamran di front depan peperangan Iran -Irak, sementara Ghadeh tetap tinggal di Lebanon. Kondisi Iran dalam perang yang dipaksakan itu tidak lebih baik dari keadaan di Lebanon. Tapi kegelisahan, kesendirian dan rindu membuat Ghadeh pergi ke Iran.

Negeri asing yang bahasanya tidak ia mengerti. Ia mendampingi Doktor Chamran di garis belakang front perang. Perang terus-terusan membuat batinnya lelah. Korban perang berserakan di manamana. Para tentara yang cedera membuat rumah sakit sesak. Ia berdoa, semoga suaminya tertembak kakinya, sehingga ia tidak dibolehkan lagi untuk pergi berperang.

Mendengarkan itu Mustafa Chamran tertawa. Dan, ketika kisah itu mampir di telinga para pejuang, mereka pun tertawa. Suatu hari Mustafa Chamran pulang dalam keadaan tak biasa. Ia memaksa untuk pulang pada hari itu untuk bertemu pujaan hatinya, Ghadeh.

Pada malam itu, Mustafa Chamran berkata pada Ghadeh, “Engkau memerlukan cinta yang lebih besar dariku, yaitu cinta Allah. Engkau harus mencapai kesempurnaan yang menjadikanmu tak merasa puas kecuali Allah dan cintaNya. Sekarang, aku akan pergi dengan tenang.” Keesokan harinya, Mustafa Chamran pergi menghadap Allah, dambaan hatinya. (*)

*) Andi Anas, penulis buku The World of
Hikmah & Ontologi A-Z

 

Be the first to comment on "Mustafa Chamran dan Gadis Lebanon"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: