Pelatihan Bengkel New Jurnaslism Bersama Dahlan Iskan

Virus Perubahan dari Surabaya

IKUTI PELATIHAN. Pemimpin Redaksi Radar Tasikmalaya TV Hilmi Pramudya saat mengikuti pelatihan “Bengkel New Jurnalism” yang dipimpin langsung Dahlan Iskan di DI’s Way News House di Jalan Wali Kota Mustajab Nomor 76, Surabaya, Jumat (3/7/2020) siang. FOTO: Bubun / sumek.co

TERJAWAB sudah. Abah (Dahlan Iskan) mau bikin koran baru. Eh, bukan koran. Harian DI’s Way. Tapi kok nekat. Bukannya masih dalam situasi pandemi. Ekonomi sedang sulit. Beberapa koran di daerah nyaris bangkrut. Bahkan sudah ada yang berhenti cetak.

Laporan:

HILMI PRAMUDYA, Surabaya

Itu ide gila. Kata salah seorang wartawan dalam diskusi menjelang tengah malam itu. Diskusi yang diikuti dua belas wartawan dari beberapa daerah di Indonesia. Mereka dikirim ke Surabaya untuk mengikuti pelatihan “Bengkel New Jurnaslism”.

Sebenarnya itu bukan diskusi kami di hari pertama pelatihan. Itu hari kelima. Setelah Abah resmi menyampaikan niatnya. Menerbitkan media cetak. Bukan koran. Tapi Harian DI’s Way. Dalam diskusi itu, Abah menyampaikan alasan. Kenapa harus menerbitkan lagi media cetak. Panjang kali lebar alasannya. Abah juga menyinggung soal media online. Abah kurang suka. Online itu beritanya pendek-pendek. Tapi sudah dianggap berita. Alasan lainnya juga banyak. “Itu virus jurnalistik,” katanya.

Abah “puasa” membaca koran selama tiga tahun. Abah malas baca koran. Tulisannya bikin tidak berselera. Itu sebabnya, Abah bikin Harian DI’s Way. Idenya muncul saat terkurung di rumah akibat pandemi. Abah ingin menghadirkan jurnalistik gaya baru. Tulisannya kekinian. Tidak bikin pembaca bosan.

Diakhir diskusi, Abah bilang: “Obrolan ini jangan dulu disampaikan pada bos kalian di daerah”. Abah meninggalkan ruangan.

Di antara kami. Seketika muncul spekulasi. Kami dikirim ke Surabaya untuk ikut pelatihan “Bengkel New Jurnalism”, atau jadi peluru buat penerbitan Harian DI’s Way?

Dari dua belas orang itu, saya satu-satunya peserta pelatihan dari media televisi. Artinya saya bukan wartawan koran. Saya belum pernah menulis berita untuk koran. Celaka. Bisa jadi saya paling bodoh di antara orang-orang ini. Saya harus belajar.

Saya tahu pelatihan ini untuk wartawan koran. Tapi saya nekat. Saya ingin belajar menulis. Langsung dari suhunya jurnalistik Indonesia. Jurnalis senior. Yang juga mantan menteri BUMN.

Saya ingat betul di hari pertama pelatihan. Saya paling pertama berdiri saat Abah masuk ruangan. Tanda hormat. Wartawan lainnya ikut berdiri.

Abah masuk melalui pintu samping. Memakai kaus hitam lengan panjang. Merek Nike. Topi laken dan masker hitam. Abah menyapa kami dengan hangat. Dengan senyum khasnya. Kemudian: “Anda dari mana?”

“Saya Hilmi. Saya dari radar tv tasik.”

“Loh, dari tv ya? Tapi anda nulis juga?”

“Ia bos saya nulis.”

Hati saya tetiba dag dig dug. Saya sedikit bohong. Saya kan belum pernah menulis berita koran.

Setelah perkenalan, Abah mengajak kami meneruskan diskusi. Tidak dalam ruangan lagi. Kita pindah ke halaman belakang kantor Harian DI’s Way. Saat itu masih diperbaiki. Masih berantakan. Kantor itu disebut juga DI’s Way News House. Kantornya di Jalan Wali Kota Mustajab Nomor 76. Tepat di samping rumah dinas Wakil Wali Kota Surabaya Wishnu Sakti Buana. Di seberangnya gedung Bale Kota Surabaya. Gedung bale kota terbesar di Indonesia. Katanya.

Abah menanyai kami satu persatu soal kondisi koran di daaerah masing-masing. Saya jawab normatif saja. Takut salah ngomong. Tapi yang paling membekas dalam benak saya. Abah bilang: “Kalian akan menjadi dokter-dokter jurnalis. Jurnalis kelas tinggi. Kelas Brahma. Dari hasil diskusi pertama itu, saya ambil kesimpulan. Abah masih yakin koran tidak akan mati. Tapi Abah meralat omongannya. “Bukan koran. Masa kejayaan koran memang sudah habis. Kita harus bikin sesuatu yang baru”. Abah menyudahi diskusi. Mudah-mudahan saya tidak salah kutip.

Abah langsung membimbing kami. Abah jadi “bengkel” tulisan yang disetorkan para wartawan. Gawat. Nyaris dari semua tulisan habis diblejeti kesalahannya. Ada yang tulisannya satu halaman. Hanya bersisa satu paragraf. Itu pun masih kena omel. Tapi setelah beberapa kali direvisi. Abah senang. Sambil menggebrak meja. Abah teriak. “Ini bagus. Luar biasa. Sangat sempurna. Saya sangat suka ini”. Tapi sayangnya itu bukan tulisan saya. Hehe… Itu pujian untuk tulisan wartawan New Malang Pos. Mas Yudistira.

Apakah tulisan saya dapat pujian. Atau malah dimaki-maki? Oh tidak. Saya tidak menyetor tulisan. Saya tidak punya tulisan format koran. Abah pun maklum. Tapi Abah tetap meminta saya duduk menyimak. Saya catat. Untuk oleh-oleh.

Selain dengan abah, kami diarahkan langsung Taufik Lamade. Teman seperjuangan Abah. Saya sempat baca tulisannya. “Pers itu siapa?”. Tulisannya bagus. Mirip tulisan abah. Dia Pemimpin Redaksi Harian DI’s Way.

Setelah sepekan. Kami diberi tugas liputan. Saya liputan soal jembatan Surabaya Madura (Suramadu). Saya liputan dengan Mas Syamsul Falak. Wartawan Radar Tegal. Saya tiga kali ke Suramadu. Saya jadi banyak tahu. Pengelolaan jembatan Suramadu banyak masalah. Tapi tidak dibahas di sini. Nanti saja baca di Harian DI’s Way. Itu pun kalau dimuat.

Besok. Sabtu, 4 juli 2020. Perdana. Lahir di Surabaya Jawa Timur. Harian DI’s Way. Media cetak yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Lahir dari kegundahan Dahlan Iskan. Mantan raja koran indonesia. Founder koran Jawa Pos. Dulu.

Harian DI’s Way bukan koran biasa. Hadir dengan bentuk fisik dan format berbeda. Apalagi gaya penulisan jurnalistiknya. Sebagian orang berpendapat. Harian DI’s Way menjadi pertaruhan Dahlan Iskan. Menghidupkan media cetak di era media digital. Pun di tengah pandemi. Harian DI’s Way akan menjangkau wilayah Surabaya Raya. Gresik dan Sidoarjo. Saya belum tahu apakan nanti ada platform digitalnya atau tidak. Tunggu saja.

Saya yakin. Harian DI’s Way bisa diterima masyarakat. Jadi pembeda di antara media cetak yang ada. Saya percaya. Karena Harian DI’s Way lahir dari DNA-nya seorang wartawan sesungguhnya dan seorang pengusaha ulung.

Soal apakah kami dikirim ke Surabaya untuk pelatihan. Atau dijadikan amunisi untuk melahirkan Harian DI’s Way? Itu saya tidak peduli. Saya beruntung bisa satu kantor dengan Abah. Sampai pertengahan Juli nanti. Itu pun jika diperbolehkan pulang.

Saya dan rekan-rekan wartawan lainnya masih di Surabaya sekarang. Zona merah. Ada juga yang bilang zona hitam.  Pemimpin klasemen sementara Covid-19 di Jawa Timur-Indonesia. Kami yang ikut pelatihan di sini sepakat. Kita akan membawa pulang salah satu virus ke kantor masing-masing. Entah itu virus perubahan. Atau virus corona. Tinggal pilih. (*)

Be the first to comment on "Virus Perubahan dari Surabaya"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: