Pemkot Minta Camat- Lurah Gerakan Warganya Bebersih

DBD Sudah Tembus 700 Kasus

BUNGURSARI – Pemerintah Kota Tasikmalaya akan melakukan pengerahan masyarakat untuk rutin membersihkan lingkungan masing-masing, dalam upaya penanganan Demam Berdarah Dengue (DBD). Sebab, tritmen itu dinilai paling efektif dalam membasmi potensi jentik nyamuk.

Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya H Ivan Dicksan menjelaskan hal itu sesuai dirinya memimpin rapat khusus penanganan DBD bersama sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Pada kesempatan itu, pihaknya mendorong Dinas Kesehatan (Dinkes) dengan sisa anggaran yang ada, bisa memfokuskan untuk menangani DBD. Salah satunya melakukan langkah pemberantasan jentik nyamuk secara masif.

“Salah satu langkah yang akan kita tempuh yakni melakukan pemberantasan jentik nyamuk, dengan menggerakan masyarakat. Sebab, analisis dari Dinas Kesehatan (Dinkes) yang paling efektif itu gerakan menguras, membersihkan potensi genangan air supaya tidak ditumbuhi jentik nyamuk,” ujar dia dihubungi Radar, Selasa (30/6).
Pihaknya pun akan meminta bantuan lurah dan camat supaya dapat menggugah kesadaran masyarakat, dalam melaksanakan bebersih masal di wilayah masing-masing.

Sehingga, di samping Pemkot berupaya menanggulangi, muncul juga kesadaran kolektif dari masyarakat dalam menjaga lingkungan agar tidak berpotensi ditumbuhi jentik nyamuk. “Dinkes juga akan memetakan daerah mana saja yang perlu dan belum perlu di-fogging,” katanya.
“Sebab, fogging itu hanya membunuh nyamuk dewasa. Ketika jentik tumbuh menjadi dewasa, itu harus di-fogging lagi. Maka hasil paparan Kepala Dinkes itu fogging di satu lokasi minimalnya harus dua kali,” sambung Ivan.

Intinya, lanjut Ivan, gerakan kebersihan di level masyarakat penting. Sebab, kondisi Pemkot saat ini juga masih dihadapkan dengan Pandemi Covid-19. “Kaitan status pun kita masih pada Siaga DBD, belum menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB),” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya dr Uus Supangat menjelaskan pihaknya tengah menyiapkan penguatan infrastruktur fasilitas kesehatan. Sehingga, apabila ke depan Pemkot menetapkan KLB, dari sisi penanganan medis sudah siap untuk menanggulangi pasien. “Kami sudah melakukan penguatan di level rumah sakitnya.

Sehingga, ketika kalau nanti kita tetapkan KLB infrastrukturnya sudah siap,” tuturnya.
Uus menjelaskan kurva kasus DBD sejatinya terlihat melonjak sejak Maret 2020, kemudian angka kasus cukup tinggi di bulan April. Mei sangat tinggi dan puncak sudah terjadi di Bulan Juni.

“Sekarang kan sudah tembus 700 kasus. Kami menganalisa, kenaikan kasus dan pasien meninggal itu ketika PSBB satu, dua dan tiga. Di masa tersebut, kami memahami mungkin masyarakat ada kekhawatiran terpapar Covid-19, ketika hendak berobat atau mengakses fasilitas kesehatan saat mengalami keluhan DBD,” ana­lisisnya.
“Sebab, rata-rata kematian yang terjadi lantaran trom­bositnya rendah dan sudah masuk fase Dengeu Shock Sindrom (DSS),” lanjut Uus.

Selain me­lakukan penguat­an rumah sakit, pihaknya juga be­rencana meng­gerakan kader kesehatan mulai pekan depan. Meng­aktifkan Posyandu supaya terjun meng­edukasi dan sosialisasi ke masya­rakat untuk menekan potensi DBD baru. “Pekan depan posyandu akan aktif kembali untuk turun kegiatan ke masyarakat. disamping menekan kasus DBD dan permasalahan lainnya,” kata Uus. (igi)

Be the first to comment on "DBD Sudah Tembus 700 Kasus"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: