Idealnya Fogging Tak Berbayar

FOGGING. Petugas mem-fogging rumah warga di Perum Baitul Marhamah 1 Keluarahan Sambongjaya Kecamatan Mangkubumi Kota Tasikmalaya Selasa (30/6/2020). FOTO: Ujang Nandar / Radar Tasikmalaya

TASIK – Sejak Februari hingga Juni 2020, sudah 10 warga di RW 14 Perum Baitul Marhamah 1 Kelurahan Sambongjaya Kecamatan Mangkubumi Kota Tasikmalaya terjangkit demam berdarah dengue (DBD). Masyarakat di perumahan tersebut melaksanakan fogging, Selasa (30/6/2020).

“Ke 10 orang itu paling banyak anak-anak. Dewasanya hanya dua orang,” ujar Ketua RW 14 Perumahan Baitul Marhamah 1 Kelurahan Sambongjaya Ipin Mulyana.

Menurut Ipin, fogging merupakan tindak lanjut setelah warga membersihkan sarang nyamuk.

Fogging ini merupakan tahap awal. Minggu depan juga akan dilaksanakan fogging lagi,” ungkapnya.

Untuk bisa lingkungannya di-fogging, kata Ipin, pihaknya harus membayar Rp 10.000 per rumah (kepala keluarga). Sebelumnya, mereka sudah mengajukan pengasapan tersebut ke pihak puskesmas. “Kebetulan di sini kami (membayar fogging, Red) menggunakan dari kas RT dan RW,” jelas dia.

Menurut dia, idealnya di saat Kota Tasikmalaya siaga satu DBD, Pemerintah Kota Tasikmalaya menggratiskan biaya fogging. “Harusnya memang gratis, apalagi kondisi saat ini, selain ekonomi sulit karena dampak Covid-19 juga kondisi tingginya kasus DBD,” tutur dia.

Programmer DBD Pusksemas Sambongpari Ida Farida mengatakan fogging bisa dilaksanakan kalau di suatu tempat ditemukan dua orang yang terkena DBD. Selanjutnya, warga melaporkan kasus tersebut ke keder Juru Pemantau Jentik (Jumantik).

“Selanjutnya melakukan penelitian epidemiologi dan ditemukan jentik positif lebih dari 5 persen itu direkomendasikan boleh fogging,” kata dia.

Sebelum melaksanakan fogging, kata Ida, biasanya dilaksanakan Pembersihan Sarang Nyamuk (PSN).

“Yang utama memang PSN, karena untuk fogging hanya membunuh induk nyamuk,” kata dia.

Saat singgung mengenai biaya fogging yang harus dikeluarkan masyarakat, kata dia, biaya tersebut untuk membeli bahan-bahan fogging. “Dan juga petugasnya merupakan tenaga harian lepas, otomatis harus ada biaya yang keluar,” kata dia menjelaskan. (ujang nandar)

 

Be the first to comment on "Idealnya Fogging Tak Berbayar"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: